Tag

,

Lalu, bagi saya yang merasa skripsi itu tidak wajib, adakah alasannya. Saya punya banyak alasan. Tentu tak sama dengan yang lain. Tak mesti sejalan juga dengan yang lain. Dan bukan soal kebenaran. Kebenaran itu hal yang lain lagi. Misalnya, kenapa saya manis. Itu kebenaran. Masih relative sih. Relatif benar. Saya sampaikan beberapa saja yang masih bisa lumayan kadar kewarasannya.

Skripsi bukan satu-satunya alat penentu kadar keilmiahan. Selama empat tahun kuliah tentu banyak indikator yang bisa kita pakai. Tugas misalnya. Jika selama satu semester ada 6 mata kuliah dan setiap mata kuliah ada minimal satu tugas sepuluh halaman essay. Selama 8 semester akan ada 48 tugas dikali sepuluh halaman. 480 halaman. Tentu ini hitungan kasar. Dikurangi halaman plagiat, halaman ndak jelas, naskah copy paster, yah dapet 100 halaman. Lumayan. Skripsi saja kadang 50 halaman saja sudah membuat mahasiswa jadi jomblo dua semester.

Dunia di luar sana, tak semua menanyakan skripsi. Mungkin fokusnya hanya IPK. Tapi yang banyak adalah menanyakan portofolio. Skripsi bisa jadi bagian dari portofolio. Tapi bukan satu-satunya. Jika masuk dunia praktis, skripsi hanyalah pemanis. Yang paling dilihat “Oh skripsi kamu A ya?” sudah. Itu doang! Yang dilihat, “Lha, kamu apply stasiun TV kok matkul perencanaan program dapet D?” Atau “Skripsi kamu A ya? Kok masih jomblo sampe sekarang?’

Skripsi bukan indikasi utama mahasiswa bisa riset. Lagipula, ada matkul riset dan matkul yang menerapkan riset yang bisa dijadikan indikator. Lagipula, menulis skripsi dan melakukan riset seringkali menjadi dua blok yang berbeda. Siapa pula menjamin dosen penguji sudah paham metode riset? Saya saja masih terbata-bata. (terbata-bata artinya sering kepentok bata)

Skripsi bukan syarat utama melanjutkan sekolah. Tidak semua mahasiswa ingin S2. Tidak semua S2 mensyaratkan skripsi. malah kalau beruntung sekolah ke luar negeri dbiayai beasiswa, seringkali hanya mencantumkan contoh tulisan. Itu bisa didapat dari tugas. Dan jelas, skripsi bukan syarat utama untuk dapat pacar.

Skripsi bukan penentu kualitas hidup mahasiswa. Paling hanya merusak IPK kalau nilai skripsi jelek. Bayangkan mahasiswa yang semua matkulnya dapet A atau AB jebol nilai skripsinya karena gugup saat sidang. Kenapa begitu, ya balik lagi ke alasan satu.

So, secara pribadi, saya menyukai wacana skripsi tidak diwajibkan. Bagi yang ingin memilih tetap menulis skripsi, ya silahkan. Banyak bagusnya. Bagi yang memilih tidak menulis skripsi, ya dipersilahkan. Banyak juga bagusnya. Yang terpenting adalah mahasiswa tahu apa yang dilakukan dan paham arah hidupnya kemana. Skripsi bukan satu-satunya penentu kualitas diri. Setuju?

Perth, 26 Mei 2015

V vor Vkripsi