Tag

, ,

Saya sepertinya percaya, skripsi itu tak ubahnya pacar. Ada yang merasa perlu. Ada pula yang tidak. Ada yang merasa gagal skripsi seperti gagal dalam hidup. Seperti pacar. Ada juga yang merasa, kalau gagal skripsi, yo weslah…seperti pacar.

Namun, sebetulnya menarik juga jika melihat bagaimana relasi dosen – mahasiswa yang terbungkus melalui skripsi. Seperti tipe-tipe hubungan antar manusia gitu. tentu tak semua menyenangkan. banyak yang menyebalkan. Namun, saya percaya, relasi yang terbentuk akan bermanfaat. Paling tidak bagi saya.

Mengerjakan skripsi itu ibarat orang mules sakit perut. Lebih pas lagi mules karena diare. Menggarap skripsinya ibarat mulesnya. Buat hidup ini jancuk kuadrat. Tapi begitu sudah ngumpulin dan ujian, ibarat sudah jongkok di WC dan mengeluarkan isinya semua. Lega.

Lalu, kenapa diibaratkan diare? Ya, seperti orang diare, ujian kan belum tentu memuaskan? Bisa ndak lulus atau revisi berat. Nah, sakit perut lagi. Setor lagi. Tapi ya, tergantung relasi dosen dan mahasiswanya sih.

Ada beberapa relasi dosen mahasiswa kalau soal skripsi ini. Setiap relasi ada plus minusnya. Tapi, hmm…mungkin lebih banyak minusnya bagi mahasiswa. Ohya, karena saya dosen, boleh dong perspektif saya berat sebelah. kan selama ini mahasiswa udah sering curhat ngata=ngatain dosen segala. Boleh dong kali ini dari perspektif dosen.

Relasi yang paling umum adalah relasi Catch Me if You Can. Ini tipe kejar-kejaran. Dosen sudah siap, eh mahasiswanya ngilang. Dipanggil berkali-kali, ndak ada jawaban. menghilang. Lihat di timeline twitter, si mahasiswa ramai berkicau, begitu dimention, eh langsung akunnya digembok. Di facebook tiba-tiba de-activated. Kadang dua bulan menghilang, sampai dosen lupa punya bimbingan yang satu ini. Mungkin kalau anaknya datang, si dosen akan mengernyitkan dahi dan bertanya, “Anda siapa?’

Relasi kedua, seringkali adalah pengembangan relasi pertama. Sebagai konsekuensi relasi pertama. yaitu relasi “jaelangkung: Datang tak diundang, Pulang tak diantar”. Ini relasi yang terjadi saat setelah berbulan-bulan ndak datang bimbingan walau sudah dipanggil, dua minggu sebelum deadline skripsi, tiba-tiba kirim sms – atau WA yang berbunyi “Mas, saya bisa bimbingan besok?”, atau “Mas dimana? Saya mau bimbingan sekarang”. Jengjeng.., Setelah bertemu, dia akan memberikan setumpuk draft dan berkata “Ini draft saya, bab 1 tapi mas” Jengjengjeng….. Biasanya gong-nya berupa pertanyaan. Atau lebih tepatnya pernyataan. “Saya bisa ngumpulin minggu depan dan maju semester ini kan mas?” Jengjengjengjeng…eng..ing…eng. Kalau di film, mungkin saya sudah bengong, membelalakkan mata, kemudian berteriak “Aaaaaaaaa…” langsung slow motion membalikkan badan (balik badan ini maksudnya kakinya tetap di bawah) lalu lari sambil mengibas-ngibaskan rambut (BUKAN. Bukan Ibas yang anak mantan presiden!)

Kemudian, ada juga relasi “Janji Joni”. Ini sebetulnya relasi yang ideal. Si mahasiswa berjuang mati-matian untuk menyelesaikan skripsinya. Sampai tuntas. Iya, ada halangan, tapi bukan jadi hambatan. Biasanya mahasiswa yang begini ini sejak awal yakin akan apa yang dikerjakan. Apa yang dimaui. Apalagi kalau ada motivasi yang lain. Misalkan surat DO, ancaman tidak boleh pulang ke rumah oleh orangtua, dijanjikan mau dinikahi oleh sang pacar (yang mungkin setelah selesai skripsi, malah ditinggal kawin dengan orang lain), atau memang mahasiswa ini tujuannya mulia: mengurangi beban si dosen pembimbing agar tidak sumpek dan suntuk melihat muka yang sama tiap semester.

Ada juga relasi “Tersanjung”. Ini adalah relasi yang sangat panjang, lama dan seakan tiada akhirnya. Si mahasiswa memberikan janji-janji manis setiap semester untuk menyelesaikan semester depannya. Lalu, semester depannya, tiba-tiba ada plot lain yang membuat dia mengucapkan lagi janji semester lalu. Begitu seterusnya. Sampai berganti tiga dosen pembimbing, tetap saja yang diberikan plot yang sama. Modus yang sama. Bahkan mungkin relasi ini akan berubah menjadi “Tersanjung: Prekuel”, saat di mahasiswa, setelah berpindah-pindah dosen pembimbing, akhirnya balik lagi bertemu dosen pembimbingnya yang pertama.

Relasi-relasi inilah yang muncul saat mengerjakan skripsi. Lalu, sebetulnya, skripsi itu perlu apa ndak sih? Kok tulisan kedua belum ada jawabannya. Tenang, tulisan berikutnya akan menjawab. Mosok bersambung cuman dua. Minimal tiga lah. Mumpung saya belum mood merevisi proposal saya.

Perth, 26 Mei 2015

Hati-hati, bisa tertimbun skripsi

Hati-hati, bisa tertimbun skripsi