Tag

, , , ,

Kenapa sih skripsi itu (tidak) diperlukan? Jawabannya akan berbeda-beda, tergantung siapa mahasiswanya. […dan mahasiswi-nya. Selanjutnya, bukan karena saya patriarkhi atau menempatkan perempuan sebagai sub-dominan, saya hanya menyebut mahasiswa untuk mewakili pria dan wanita. Untuk yang masih bingung posisinya bisa disebut mahasiswai…].

Ini sebetulnya wacana lama. Tapi bagi beberapa orang (dosen dan mahasiswa) ini adalah wacana baru. Apa sih pentingnya membahas perlu tidaknya skripsi? Bukankah lebih penting membahas beras plastic? Untuk argument ini saya bisa membantah. Mbak dan mas bro, kalau ribut soal beras palsu, coba dihitung, berapa mie goreng atau kuah yang situ makan perminggu? Itu apa ndak ada plastiknya? Coba mie itu dibakar, pasti kebakar kan? kalau ndak kebakar, berarti mie itu terbuat dari Baja! Belum lagi ditambah cilok, gorengan, pentol, sesekali cukrik, itu apa ndak lebih dahsyat ketimbang plastic?

Saya tahu beberapa mahasiswa yang sangat pintar. Hidup mereka untuk kuliah dan ilmu pengetahuan serta tentu saja kelangsungan hidup manusia. Mereka menempatkan kuliah sebagai prioritas hidupnya, buku adalah teman tidurnya, dosen adalah tokoh favoritnya, “study or die” adalah motto hidupnya. Mereka sangat tertata. Pilihan katanya sangat luar biasa. Setiap memulai bicara, pasti akan didahului dengan kata-kata, “pendahuluan”. Setiap argumentasi pasti akan diselipkan kalimat, “menurut Grodal (2009), bla..bla..blaa”. kalau menutup pembicaraan, mereka akan berkata, “jadi kesimpulannya…”. Kadang, jika tidak dikeplak dengan gelas, mereka akan melanjutkan dengan daftar buku yang mereka baca. hidup mereka di kelas. Hilang sekali saja kesempatan kuliah, mereka akan terhantui seumur hidup. Dosen tidak masuk kuliah, akan dikejar hingga di rumah, dan diseret ke kampus untuk mengajar. kalau perlu dengan menodongkan golok di leher dosennya. “Silahkan bapak pilih, mengajar saya dengan rajin atau golok ini akan menyayat leher bapak. Pelan-pelan. Golok ini tajam, pak dosen..”. Loh, apakah mahasiswa seperti ini perlu skripsi? Ya ndak tahu, saya cuman menyampaikan saja ada mahasiswa seperti ini. kebetulan pas nonton film thriller juga. Mungkin mereka akan senang dengan skripsi, dan akan sangat antusias dengan ujian skripsi. Bayangkan dalam ruangan, dia presentasi dengan riang, sementara di hadapannya ada tiga dosen penguji. Tenang. tak bergerak. Mulut mereka diikat kain. Di bawah kursi ada bom siap ledak. Di atas kepala mereka menggantung pisau besar yang akan meluncur turun jika si dosen bergerak. Apalagi bertanya. … (reek,..imajinasiku..)

Saya juga tahu beberapa mahasiswa yang antusias dengan kegiatan kuliah. tentu tidak seekstrim yang sebelumnya. Mereka memusatkan perhatian pada keilmuan. Mereka rajin membaca. Tekun. Apalagi pada pengembangan dan diskusi teoritik. mereka akan senang berbagi ilmunya dengan orang lain. Di kelas, saat ujian, mereka akan jadi tumpuan banyak orang. penyelamat jiwa. Mereka sudah terlihat sejak awal, setiap tugas essay akan dituntaskan dengan sempurna. (Cuk, iki serius banget tulisanku). Mahasiswa seperti inilah yang perlu medium seperti skripsi (dengan segala ketentuan seperti sekarang).

Saya juga akrab dengan mahasiswa yang hidup itu adalah mengikuti apa yang mereka minati. Di luar itu, dunia serasa berhenti bergerak. Mereka melihat nilai akademis itu dari sisi yang berbeda. Mereka mungkin akan terbata atau berhenti tanpa kata jika disuruh menuliskan sebuah persoalan. Semenarik apapun persoalan itu. Tapi. jika mereka disodori alat yang berbeda, dan sesuai dunia mereka, mereka akan menyajikan ribuan kata dan makna dengan dahsyatnya. Mereka memotret sebuah fenomena. Mereka mendokumentasikan sebuah persoalan. Mereka menuliskannya dengan kamera, video, computer, perencanaan strategis. Mereka ini tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menuliskannya dalam sebuah skripsi. tapi mereka bisa dan pasti bisa menuliskan hal yang sama dalam bentuk “skripsi” versi mereka. Bukankah itu teks juga?

Saya juga mengenal baik mahasiswa yang hidup di dua dunia. Bukan, mereka bukan kodok. Atau deni Manusia Ikan. Mereka adalah mahasiswa yang mampu memaksimalkan semua kemampuan yang mereka punya. Mereka punya kemampuan menulis sedahsyat kemampuan mereka mentranformasikan teks itu dalam bentuk berbeda. Mereka sempurna. (well, banyak juga sih yang belum punya pacar, ditolak terus-terusan). Maka, mereka ini, akan punya kebebasan memilih mana yang akan mereka inginkan. Bukakah sebuah keindahan yang akan kita temukan saat menyaksikan hasil karya orang yang memaksimalkan semua kemampuannya?

Saya juga menikmati pergaulan dengan mahasiswa yang hanya Tuhan yang tahu kemana arah hidupnya. Percayalah, dia sendiri tidak tahu hidupnya mau dibawa kemana. Kuliah adalah selingan. Tugas adalah kejutan sesaat yang gampang diabaikan. Dan mereka inilah yang juga diberikan kesempatan untuk memilih. Persoalannya, sebelum memilih, mereka harus tahu mereka mau kemana dan untuk apa. Itu yang agak lama. Tapi kalau mendapat surat ancaman DO, biasanya mereka mendadak mendapat wangsit dan wahyu. Makanya Wahyu teman saya sering jadi rebutan kalau sudah begini.

Jadi, kenapa skripsi (tidak) perlu? Ah, saya kehilangan arah dalam menulis kali ini. Mungkin akan saya jawab dalam tulisan berikutnya.

Perth, 25 Mei 2015