Tag

, , , ,

Salah satu love-hate relationship antara dosen dan mahasiswa tercipta dari pertanyaan “Ada yang tidak paham?”

Pertanyaan tersebut pasti sering dan hampir selalu ditanyakan dosen kepada mahasiswa di kelas. hayo ngakuuu (pertanyaan ini saya tujukan kepada mahasiswa. Bukan dosen). Coba hitung, dosen lebih sering bertanya “ada yang tidak paham” apa bertanya “siapa yang ndak tahu neneknya sendiri?’ atau “ada yang tahu ukuran sarung kakeknya?”. pasti lebih banyak dosen yang bertanya “ada yang tidak paham?” atau “ada yang mau ditanyakan?”.

Saya sendiri sudah bosan menanyakan itu saat di kelas. Bayangkan, sejak saya SD, SMP, SMA, dan mahasiswa mendengar pertanyaan itu di kelas. Dan kini, saya sendiri harus menanyakan hal yang sama? Wow…hidup macam apa saya ini. Saya lebih menyukai pertanyaan “Hayo, sudah punya pacar belon?” atau “hayo…kapan lulusnnya” saya tanyakan ketimbang nanya “ada yang tidak paham?’

Sebetulnya, dosen punya alasan kenapa menanyakan hal itu. Percayalah. Dosen selalu punya alasan untuk semua hal. Termasuk hal-hal yang sesungguhnya tidak beralasan. Kami dibayar untuk itu. Mahasiswa akan sulit mempertanyakan hal itu.

Alasan pertama, adalah sebagai jeda. Jeda ini bisa bermacam-macam. (eh tahu jeda kan? kalau ndak tahu, sana gih masuk SD lagi). Seringkali antara materi satu dengan materi lainnya perlu jeda. Lebih universal kalau ditanyakan hal ini. bayangkan saja, pas dosen menerangkan soal konsep komunikator, sebelum lanjut ke konsep komunikan, tiba-tiba dosennya bertanya, “Ada yang kehilangan celana dalam?’ Nah dengan bertanya “ada yang tidak paham”, dosen itu punya waktu untuk menyiapkan materi berikutnya. Minimal sehembus dua hembus nafas. Maka, bantulah dosen anda dengan satu atau dua pertanyaan. Bisa kejadian loh, kalau anda ndak bertanya, dosennya bisa mati kehabisan kata. Cukup pertanyaan simple, misalnya, “Pak, itu kenapa resleiting celananya terbuka terus sejak tadi?” atau “Bu, bisa ndak sih ibu diam aja. Sumpek nih” Biasanya dosen begini dosen yang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan penjelasan dan nafasnya pendek. Jadi perlu jeda.

Alasan kedua, untuk memastikan anda ada. Iya bener. Kadang-kadang dosen itu ndak sadar kalau seluruh mahasiswanya sudah tidur. Atau lebih parah, sudah ndak ada di kelas. bayangkan perasaan dosennya, saat masuk kelas penuh, selesai ngoceh dua jam, sudah hilang semua. Nah untuk memastikan, dosen perlu bertanya. pertanyaan standard ya, “ada yang tidak paham?’. Iya, walaupun ndak ada yang menjawab, setidaknya sudah bertanya. Tipe begini ya dosen ndak perdulian. Biasanya, kalaupun tidak ada yang menjawab, dia akan lanjut lagi menjelaskan. Ada atau tidak mahasiswa di kelasnya.

Alasan ketiga, untuk memberikan anda persiapan sebelum terjadi kejadian yang tidak akan anda harapkan. Ini biasanya pada dosen yang suka serangan mendadak. Jadi, kalau muncul pertanyaan ini, sebaiknya menyiapkan pertanyaan. Setidaknya satu dua hal yang terkait dengan materi. karena kalau tidak, biasanya dosen ini akan menyambung dengan hujanan perintah seperti “baik karena sudah paham, mari kita test” atau “okay, buat essay 20 halaman dikumpul besok..” Hidup anda akan menderita. Sudah ndak punya pacar, pedekate ditolak terus, ini malah dapet tugas hanya karena ndak bertanya.

Alasan keempat, untuk memastikan bahwa materinya ndak salah. Ini biasanya pada dosen pelupa. Setelah dua jam anda mendapat materi soal bagaimana komposisi desain surat kabar dalam kelas komunikasi antar budaya, sangat wajar anda bertanya. Jadi dosen itu minta bantuan anda untuk memastikan bahwa satu, materinya tidak salah; dua, kelasnya tidak salah; tiga, dosennya ndak salah. Anda akan sangat membantu misalnya, “pak, materinya harusnya minggu depan. Ini sekarang libur tanggal merah” (well, anda juga tolol seh, lah kenapa juga libur masuk di kelas.)

Alasan kelima, untuk meyakinkan diri, bahwa dosen itu sudah di jalan yang benar. Saya waktu awal jadi dosen, kelas pertama saya berisi 90 persen adik kelas dan seangkatan yang tiap harinya nongkrong bareng di kantin. 10 persennya kakak kelas yang mengambil matkul itu hanya untuk ingin tahu gimana sih adik kelasnya ini, kok cukup gilanya berani menjadi dosen. Saat pertanyaan itu saya munculkan, saya melihat baik-baik setiap wajah dengan harapan akan ada wajah simpatik yang akan membesarkan hati dan seakan berkata “Hei, kamu gak jelek amat kok. Okeylah, aku gak paham, tapi kamu kan teman kami. friend in need, friend indeed kan?”. Alhasil saya hanya melihat muka-muka yang seakan berkata “kapok koen, matek koen, wajoor koen, mari ngene awakmu nangis guling-guling sambil ngukur-ngukur tegel koen…rasakno”

Alasan keenam, mencari alasan menyudahi kuliah. Ini biasanya kalau si dosen lagi hobi marathon. Nyerocos terus sampai lima menit menjelang bel tanda berakhir, baru si dosen mengeluarkan pertanyaan pamungkas. Biasanya sambil merapikan buku, menghapus papan tulis, menghidupkan hape, memasang kancing celana, memakai baju, me…sik..sik..iki arep lhapo. Dan mahasiswa yang cerdas dan tidak kepengin  mukanya bengep dihajar temannya, tentu tak akan bertanya. Perlu rasanya, variasi dalam menyudahi mata kuliah. Misalnya ada band. Atau pompomboys. Kalau saya sih menyudahi kuliah dengan tugas. Ini cara yang menarik loh. Mahasiswa saya sangat menyukai loh. Mereka lapar tugas. Sungguh. Jadi, para dosen sak endonesa raya, cobalah mengakhiri kuliah dengan tugas. (ini kalau dibayangkan adegan pelem, saya akan berdiri di atas panggung, pake peci, mengacungkan tangan kiri ke atas dan telunjuk menunjuk ke langit — yo masak telunjuk menunjuk hidung, yo opo carane)

Namun, karena saya bosan menanyakan pertanyaan itu, saya biasanya menanyakan “ada yang paham?”. Hasilnya, luar biasa. Tidak ada yang menjawab. Di situlah saat saya merasa harus pulang ke rumah nangis guling-guling sambil ngosek kamar mandi.

Perth, 22 Mei 2015

Untunglah. Ini masa lalu saya.

Untunglah. Ini masa lalu saya.