Tag

, , ,

Catatan: tulisan ini semua adalah pandangan dan pengalaman pribadi saya, tidak mengatasnamakan institusi apapun, termasuk institusi IDOMA (Ikatan Dosen Manis Ah) tempat saya menjadi ketua, sekjen sekaligus satu-satunya anggota.

Kadang, saya merasa (dan seringkali perasaan saya salah), saat awal menjadi dosen, saya seakan berpindah kasta. Tahu kasta kan? Bukan yang jogged-jogged reggae itu, itu Rasta. dari semula rantai makanan paling lemah, alias mahasiswa, kemudian masuk dalam sebuah lingkaran elit bernama dosen.

Itu bermula dari jeritan ibu saya saat saya telpon, “Ibu saya mau jadi dosen”. Tidak ada jawaban sesaat. Hening. Kemudian muncul teriakan “Apaaaaaaa?” Kemudian terdengar suara “Bruk”. Saat itu saya pikir, “wah, ada hal yang beda dengan pekerjaan “dosen” ini”. (Lama setelah itu, bertahun-tahun kemudian, barulah ibu saya menjelaskan bahwa teriakan itu karena dia kebetulan membaca tagihan telepon yang mendadak melonjak saat saya pulang kampung. Tapi ya sudah terlambat..)

Tiba-tiba, semua orang menyebut berbeda. Semua menyebut kata “pak”. Ini aneh bagi saya. Mungkin akan lebih aneh lagi kalau ada yang menyebut saya “Ibu” atau “tante”. Bahkan, saat saya di Kuta, kampung saya, ada wisatawan kulit putih, yang sedang mabuk, tiba-tiba saja berteriak kepada saya. “Pak…” sambil mengacungkan jari tengah. Tidak nyaman, bukan?

Sungguh tidak nyaman rasanya. Serasa ada jarak. Mahasiswa saya selalu menyapa saya dari jarak setidaknyanya satu meter. Memang belum ada yang menyapa saya di depan muka saya begitu sih. Apalagi persis berbisik di telinga. pasti semriwing gitu rasanya.

Selain berubah panggilan, (Tentu selain nama saya yang juga jadi kacau setelah pindah ke Surabaya ini. Sejarah kelam kekacauan nama saya ini dimulai di Surabaya, saat singkatan depan nama saya menjadi nama panggilan saya.), kadang juga sikap dan penilaian. Semua menjadi serba aneh dan tanggung, hanya karena saya dosen.

Kalau rapat RT, saya selalu disuruh duduk di depan. Katanya “Masak dosen duduk di belakang”. Lha iya, apa ada hubungannya dosen dengan lokasi duduk. Masak hanya mahasiswa yang berhak duduk di belakang. Untung saat sholat Jumat, saya tidak dipanggil ke mushola sambil diceramahi pak haji tetangga saya, “dosen kok ndak sholat”.

Saya juga pernah diceramahi Polisi saat kena tilang karena naik motor tanpa helm. Kata pak polisi, “Dosen kok ndak pake helm”. Saya jadi heran, apa pak polisi ini nyuruh saya pake helm waktu ngajar?”. Terus ketemu mahasiswa waktu saya berburu barang murah di TP Jongkok. “Dosen kok cari barang murah. bekas pula!”. (Di sini saya merasa sedih. Di Perth sini, hobi saya nyari gratisan di freecycle dan di gumtree dan berburu kalau ada barang bagus dibuang di jalan)

bagi beberapa orang, pekerjaan dosen mungkin dianggap masuk “kasta” baru. (tahu kasta kan? Ahh..sudahlah). Padahal, itu hanya pekerjaan. Kalau dikaitkan dengan moral, semua pekerjaan punya moralnya sendiri. Jadi dosen tak serta merta moralnya lebih tinggi. Banyak juga yang moralnya ancur dan gak jelas. Saya misalnya. Ngajar kok pake jeans sama kets. Besok-besok pake swimsuit ah, yang one piece. Atasnya doang.

Tapi yang menarik adalah, love-hate relations antara dosen dan mahasiswa. Karena mereka berhadapan selama minimal empat tahun. Seperti teman, ada suka dan duka. Ada caci dan maki (loh, lak podho) diantara keduanya. Seperti apakah?

Perth, 19 Mei 2015

Efek Nguji Skripsi banyak Sekali bagi Dosen manis Sekali

Efek Nguji Skripsi banyak Sekali bagi Dosen manis Sekali