Tag

, , ,

Skripsi bisa bikin dosen manis sekali mati sambil tetap manis sekali

Skripsi bisa bikin dosen manis sekali mati sambil tetap manis sekali

Kenapa saya mau jadi dosen. Itu pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan cepat. Miriplah dengan bertanya berapa hasil 45 dikali 765 dibagi 346 dikurangi 56. Susah kan? Musti mikir dulu kan? Atau sama dengan kalau mahasiswa ditanya dosennya. “kalian milih mana, dapat tugas bikin paper 10 halaman apa dengerin kuliah saya lima jam nonstop”. pasti susah juga njawab seketika. Musti mikir dulu. Walau hasilnya sama: tifus!

Saya awalnya juga ndak tahu kenapa saya mau jadi dosen. Bukan guna-guna yang jelas. Lha yang nanya dosen saya yang cowok. Ndak ganteng. Apalagi manis. Tapi setelah menjalaninya, saya merasa punya jawaban — yang celakanya tidak bisa disamakan dengan pendapat orang lain.

Point pertama, jadi dosen tidak membuat saya terikat jam kantor yang kaku.

Saya bukan orang yang senang diikat. Apalagi sambil dipecut dan ditutup matanya. (bro, itu sadomakintos namanya bro). terikat dengan jam kantor yang kaku akan membuat saya mati kutu. Saya pernah mengalami itu. Saya pernah bekerja di pabrik permen. Iya pabrik permen. masuk jam 8 pulang jam 5. pakai seragam putih. Bidang kerjanya menyenangkan. Mikir strategi marketing, menilai kerjaan biro iklan, menghitung fluktuasi penjualan secara statistic (OMG, yang merekrut saya dulu munngkin tidak melihat transkrip nilai saya. Statistik dapet D kok disuruh menghitung fluktuasi penjualan! untung juga saya nggak bego-bego amat soal menghitung. Ya bego, tapi ndak amat). Jam kerja kaku akan membuat kreativitas saya buntu. Bikin saya dungu. Nah, jadi dosen — waktu itu — menurut saya tidak terikat jam kerja yang kaku. Ndak tahu sekarang. Haloooo…gimana sekarang? (lihat cermin besar di kamar mandi)

Lah sekarang yang fleksibel aja mahasiswa masih mayak. Saya bukan orang yang bisa tepat waktu. Iya saya MALAS. B.A.N.G.E.T! Tapi sering loh saya ke kelas jam 7.30 karena kesepakatan dengan mahasiswa masuknya diundur dari jam 7 jadi jam 7.30 tapi tetap aja mahasiswa sayah yang gtercintah itu datangnya jam 8. Itupun dengan muka polos. Muka. Bukan tubuh. Hayoooo…ngaku…

Kedua, jadi dosen tidak mengharuskan saya pake baju seragam. Safari. Atau batik.

Waktu itu, syarat saya simple. Boleh pake jeans dan kets. Dan T-shirt. untung saya di FISIP. Coba di fakultas lain. Mungkin saya bisa mati berdiri disuruh pake kemeja, dasi, celana kain dan sepatu pantovel (fantofel? vantovel? pantopel? ah..sudahlah, sepatu kulit itu loh yang ujungnya runcing). Seingat saya, sampai saat ini saya hanya punya satu celana kain hitam (yang biasanya jadi celana wajib kalau kondangan kawinan) dan satu fantopel (atau fantovel? Cuk, sepatu kulit. Angel tenan..). Soal dasi sih ndak masalah. Saya punya 10 dasi da n3 diantaranya favorit saya. Masalahnya, semua dasi itu bercorak kartun. Masalah buat lu ? Pakaian menurut saya bukan hal besar yang harus dirisaukan kampus. Saya selalu ingat guyonan lama, “Mahasiswa dilarang pake sepatu yang tumitnya diinjak” — ayoo…jinjit kabeeeh..

Bayangkan kalau dosen dikasih seragam coklat-coklat, terus berdiri di depan kelas. Sambil bawa pentungan. Atau mungkin pecut. Itu mahasiswa bisa kencing duduk.  “Hayoo..kamu yang duduk belakang, jangan rame!” Lalu “Cetar!’ suara cambuk membahana. Serem kan? Apalagi kalau mahasiswanya dikasih seragam oranye gitu. Ini kelas apa kamp Guantanamao….

3. Saya bisa nunut ke luar negeri.

Iya, saya ndeso. Saya waktu itu ndak pernah ke luat negeri. Ke luar pulau saja waktu itu cuman Surabaya. Dari bali saya naik bis kota. paling mahal, naik kereta. pesawat itu cita-cita luar biasa. Tapi saya baca dulu, kalau jadi dosen bisa ikutan acara di luar negeri. Konpren gitu lah. Lumayan kan? Dan tentu saja sekolah. Well, cuman topeng aja sih sekolah. Aslinya jalan-jalan ke luar negeri dibayari! Kalian yang kaya memang bisa sekolah ke luar negeri sendiri, tapi kan pake duit sendiri? kalau jadi dosen malah dibayari. Hehehehe. Istilahnya biar kere asal kece. (cuk, kece, kelihatan banget lahirnya jaman kapan)

Itu sih tiga alas an awal saya kenapa mau jadi dosen. belakangan, saya menemukan beberapa alas an lain yang sebetulnya asyik juga. nanti ah saya ceritakan. kalau semua diceritakan sekarang, ndak seru. Nanti saya bingung nulis apa. Masak nulis proposal lagi.

Perth, 15 Mei 2015