Tag

, ,

Tulisan ini memang tulisan asal. Dibuat saat saya seharusnya mengetik hal yang lebih penting. Proposal penelitian saya. tapi, seperti biasa, saya selalu punya alas an untuk tidak melakukan itu. Sudahlah. Kalian yang normal, pasti tahu kenapa ini terjadi bukan? kalau kalian tidak pernah melakukan ini, berarti kalian tidak normal. kalian berarti freaking smart and discipline. That’s abnormal.

dan mahasiswa saya, sudahlah, jangan komentar. kalian lebih parah. :p

Jadi, begini. Selama ini sudah terlalu banyak tulisan soal mahasiswa. Mahasiswa adalah mata rantai makanan paling lemah dari sistem social kita. Semua menulis soal mahasiswa. Semua berkata soal mahasiswa. kalau soal jomblo, ndak lulus, belum kawin, pasti soal mahasiswa. Padahal, ada juga loh dosen yang jomblo. Ada juga loh dosen yang ndak lulus-lulus. Iya, itu DOSEN loh..

Saya merasa dosen diperlakukan beda. Bukan terhormat. bagaimana bisa terhormat, kalau saat kuliah, saya menemukan tweet mahasiswa saya yang berbunyi “Dosen kampr*t. Bicara apa sih di depan ini?”. untung bukan kuliah saya. Lalu, kalau mahasiswanya ndak lulus, pasti yang disalahkan dosennya.

Mungkin karena takut. Bisa jadi. Nah, takut sama dosen ini bahaya sebenarnya. Artinya akan ada masa kalau mahasiswa ndak takut lagi sama dosennya. dan itu lebih nyebelin.

Jadi, ya, saya akhirnya menulis soal dosen. kebetulan saya juga dosen. Saya juga mahasiswa. Jadi tahu soal dosen dari perspektif mahasiswa. Tapi, bukan berarti tulisan ini akan memberikan generalisasi pada semua dosen. Bukan. Enak saja. Lagipula ngeri saja kalau saya menyebut dosen itu manis, akan ada dosen yang mencak-mencak. karena dia tidak manis. ganteng aja ndak. Apalagi manis.

Dosen bukan cita-cita saya. Bujul buset. Siapa orang yang punya cita-cita jadi dosen? Dalam semanis muka saya, saya ndak pernah menemukan anak kecil yang dengan pandangan mata tajam percaya diri dan membusungkan dada menjawab bangga saat ditanya, apa cita-cita mu saat besar nanti. “Saya akan menjadi dosen,” (diiringi music heroic dan bendera berkibar-kibar di belakang)

Ndak ada. Dosen itu bukan cita-cita. Setidaknya bagi saya.

ndak pernah ada cita-cita jadi dosen ada dalam kamus hidup saya waktu itu. Saya memilih komunikasi sebagai tujuan kuliah bukan untuk menjadi dosen. Saya ingin jadi wartawan. Pilihan tak popular saat itu. kenapa tidak menjadi dokter? Atau insinyur? Atau tentara? Polisi? insinyur?

profesi dosen mirip seperti satpam. Atau hansip.

Pilihan menjadi dosen muncul, sejujurnya, bukan pilihan saya. Pilihan itu datang saat saya sudah bosan hilir mudik di jalan cari berita, wawancara orang di mana-mana, sempat masuk pabrik ngurusi permen dan snack, membuat naskah iklan, sementara skripsi tak selesai-selesai. Apa ya pekerjaan yang tidak membuat saya terikat jam kantor, bisa jalan-jalan kemana-mana, bisa ke luar negeri, ndak harus pake seragam:

voila.

Dosen saya menawari saya: “kamu mau jadi dosen ndak?’

Tiba-tiba. tanpa rencana.

Konyolnya, saya berkata, ‘Iya, mau pak. Saya boleh pakai jeans dan kets kan?”

(Pertanyaan ini selalu saya munculkan saat ditawari pekerjaan baru, Apapun itu)

Ya, terjadilah. Begitu saja. Tiba-tiba. Saya jadi dosen.

teman-teman saya satu angkatan ndak ada yang percaya. Mereka tahu saya sudah cukup gila kesehariannya. Tapi menjadi dosen, adalah kegilaan yang serius. Akut.

“kamu ndak kasihan sama adik-adik kelas kita? mental mereka bisa rusak karena kamu”, tanya Esti, salah satu kawan, sambil berhati-hati melihat sekitar saya, apakah ada ganja, arak atau apapun yang mungkin membuat saya seperti ini.

Saya tahu ini gila. Ada banyak teman saya yang secara lingkar otak, jauh lebih pantas jadi dosen. Saya, statistic saja dapet D. IAD ngulang dua kali biar dapet C.

Tapi sudahlah. Saya sudah mengiakan. jadilah saya. Dosen.

Impian jadi wartawan, saya kubur dalam-dalam.

Setidaknya, sampai setahun saya resmi menjadi “honorer” dosen, semua teman yang tahu saya jadi dosen, reaksinya kurang lebih sama:

1. Terbelalak, mulut terbuka lebar, kamera close up ke mulut, sambil berkata “Serius?” Pake echo. Lalu lanjut ke opsi dua.

2. Diam. hening beberapa detik. Kemudian tertawa keras. Lama. Mereka yang memulai dengan opsi ini akan melanjutkan ke opsi satu.

Silit sakit melilit pailit. Saya sempat merasa salah pilih. Apakah benar saya salah pilih? Kita lihat nanti.

(Bersambung ke artikel berikutnya di lain hari kalau saya sudah merasa perlu pengalihan penat lagi)

Perth, 14 Mei 2015