TANDATANGAN. KENANGAN | Saya percaya Mendapat pengalaman dan pelajaran bisa di mana saja. Selama hampir tujuh tahun mendapat kesempatan “belajar” di lingkup manajemen rektorat Universitas Airlangga, saya sungguh belajar banyak hal. Belajar mendengar, mengalah, memberi kesempatan, bersabar, bernegosiasi, berdebat, dan banyak hal lain yang membuat saya beruntung mendapatkan kesempatan itu. Tak sempurna, jelas. Ibaratnya, tak semua mendapat nilai A. Malah ada yang mungkin tak lulus, misalnya sudah pasti masalah formalitas, kerapian berpakaian, dan taat tata krama adalah hal-hal yang mungkin saya tak lulus (well, sampai sekarang saya tak punya celana kain, dan tak pernah tahu kapan harus pakai batik, dasi atau jas. Yang penting berbaju. Ketimbang saya bugil?) maka, ini adalah sebuah sekolah bagi saya. Seperti halnya sekolah lainnya, ada saatnya lulus, entah meluluskan diri atau diluluskan. Saya memilih meluluskan diri. Tradisi kelulusan, adalah coretan tanda tangan. Karena tanda tangan, juga adalah kenangan. Saya cukup puas karena di kemeja biru yang sudah saya miliki sejak 2007 (psst, saya beli itu 2 dollar di GoodSammy) menjadi tempat berlabuhnya puluhan tanda tangan kolega, rekan kerja, sahabat, dan siapapun yang saya kenal dan banyak membantu saya selama ini. Termasuk tanda tangan orang yang selama ini hanya bisa didapatkan pada ijazah mereka saat lulus dari Unair. Ohya, saya tahu tradisi coretan di baju tak semua orang suka. Sering dianggap tak bijak. Maafkan, saya memilih untuk tidak bijak. Karena kenangan kadang memang tak bisa menyenangkan semua orang.Terima kasih semua. Hakuna Matata. – with Astria, Indra, Ganes, Citra, Sony, Dwi, Ratna, firo, Aprilia, Margaretha, Dewi, and Puguh

View on Path