Tag

, , , , , ,

Re-post dari http://tanahapikata.blogspot.com/2010/01/kritik.html

Tak banyak film essay diproduksi di Jawa Tinur. Maka, saya langsung menyanggupi saat S.Jai menyodorkan film essay-nya direview. Adalah sebuah kesempatan langka, saat satu genre dalam studi sinema itu dicoba untuk ditekuni. Selama ini, tepatnya selama euforia film pendek di Indonesia, oh oke, Jawa Timur, saya menonton ratusan film-film pendek dengan genre drama fiksi, serta beberapa belas dokumenter, sedikit eksperimental dan, akhirnya, satu sinematik essay.

Film essay atau sinematik essay, sebagai sebuah bentuk film, telah lama didiskusikan dalam ruang lingkup film studies sebagai salah satu genre integratif. Sebagaimana banyak studi kritis dan genre dalam sinema, pengaruh sastra tulis tidak bisa dilepaskan begitu saja. Taruhlah studi author dalam sastra tulis yang kemudian diintegrasikan dalam studi sinema. Studi ini sempat menjadi kontroversi perang wacana dalam studi sinema. Begitupun sinematik essai. Sebagai sebuah genre, sinematik essay seringkali dilihat sebagai salah satu usaha memvisualisasikan essai.

Thompson (2005) mendeskripsikan esai sinematik sebagai bentuk lain dari sinema kontemporer yang mengintegrasikan film dokumenter, unsur fiksi dan aspek eksperimental. Thompson memaparkan beberapa aspek yang dianggap signifikan dalam pembuatan esai sinematik, yaitu:

Meditation on a theme substituted for plot; disunity of time, space, tone, materials, style; modularity; suspension of belief; self criticism or self reflexivity; non-anticipatory camera; medium shots; and editing strategies varied. (hal.2)

Senada dengan Thompson, Lopate (1998) menyatakan bahwa sebuah sinematik esai adalah sebuah teks [sinema] yang dapat mengekspresikan kekuatan sebuah sudut pandang personal untuk mendiskusikan isu-isu tertentu. Lopate menyarankan lima proposisi yang dapat digunakan dalam sinematik esai. Yang pertama, sinematik esai harus memiliki beberapa bentuk kata-kata: teks tertulis, ungkapan langsung, atau kutipan, karena “conveying a message of politics through images does not alone make an essay” (hal.246). Artinya, visual saja tidak cukup.

Kedua, Lopate menjelaskan, teks tersebut seharusnya dijadikan suatu bentuk yang mampu mengartikulasikan sebuah perspektif tunggal dari pembuat film, dan ia menambahkan bahwa, “there is nothing wrong with lots of citation or quotes in an essay, so long as a unified perspective is asserted around them” (hal.246). Ketiga, Lopate menyarankan bahwa sinematik esai harusnya melibatkan diskusi logis atau, “discourse on a problem” (hal.246). Proposisi keempat Lopate adalah teks harus menampilkan sebuah, “strong, personal point of view” (hal.246). Hal ini berarti bahwa teks tersebut mestinya menyampaikan sebuah perspektif spesifik yang berasal dari sebuah topik atau isu yang didiskusikan pembuat film dalam film tersebut. Terakhir, sebagai bagian dari nilai estetiknya, teks mestinya bersifat persuasif, menarik, dan dibuat secara seksama sesuai dengan kualitas kemampuan pembuat film.

Sebagai tambahan, Lopate (1998) memberikan tiga strategi pilihan untuk memproduksi sebuah sinematik esai: yang pertama, menulis sebuah teks dan mencari materi visual untuk memvisualisasikannya; kedua, mengambil gambar atau menyusun beberapa cuplikan gambar, kemudian menulis sebuah esai yang mengomentari susunan cuplikan tersebut; ketiga, gunakan sebuah proses kerja yang tidak terstruktur dengan cara menyusun cuplikan adegan dan menulis teks secara berkesinambungan untuk menyelesaikan sebuah esai sinematik secara menyeluruh. Saya tidak terlalu banyak tahu sinematik essay di Indonesia. Apalagi di Jawa Timur. Satu di antara beberapa yang saya tahu, dan saya suka adalah sinematik essay karyya Garin Nugroho. Beberapa karya Chris Marker (seperti Sans Soleil, 1982; The last Bolshevik, 1992; One Day in the Life of Andrei Arsenevich, 1999; dan A Grin without a Cat, 2002) dan serta Clara Law (Letters to Ali, 2004) adalah beberapa contoh relevan esai sinematik dan digunakan sebagai referensi visual [1]

Pita Cukai menjadi sebuah kerja awal dari S.Jai yang mencoba memadukan investigasi news dengan opini. Ia mencoba menelusuri persoalan atau bisa disebut “skandal” pita cukai di Kediri. Sebetulnya, karya awal ini dapat menjadi sebuah karya yang menjanjikan, selain catatan-catatan berikut yang mungkin dapat dijadikan alternatif pemikiran. Mengutip kembali catatan Lopate sebelumnya, kekuatan sinematik essai, sebetulnya ada pada dua poin utama: kekuatan opini personal dan pilihan gambar. Sebagai sebuah embrio, dua kekuatan utama ini mulai muncul pada Pita Cukai. Persoalannya adalah, embrio tidak cukup kuat untuk menjamin menjadi sebuah produk yang diakui.

Kekuatan opini personal dalam sinematik essai sesungguhnya hanya memperkuat asumsi dalam auteur theory – dalam dunia sastra tulis maupun studi sinema – bahwa sang author memiliki kuasa penuh atas karyanya, sehingga, karya itu menjadi personifikasi sang author, atau paling tidak menjadi apa yang disebut sebagai “the voice of author”. Ya, Barthes menyatakan “the author is dead”, tapi jangan lupa, ia juga masih menyatakan bahwa ia masih merasakan “the sense of the author”. Sinematik essai, jika tidak hendak menjadi personifikasi murni sang author, setidaknya menyuarakan opini sang author. Hal inilah yang menjadi sedikit ganjalan dalam Pita Cukai. Saya belum merasakan personal opinion dari seorang S.Jai. Saya melihat sosok S.Jai dalam beberapa scene. Saya mendengar suara S.Jai melakukan wawancara. Bahkan, saya melihat S.Jai menyampaikan pendapatnya di depan kamera. Seolah-olah diwawancara. Sayangnya, saya belum melihat apa yang disebut Lopate sebagai “a strong, personal point of view” dari S Jai.

Kekuatan opini tidak cukup bisa terwakili dari kehadiran sang author secara kasat mata. Betul, Michael Moore muncul dengan sangat kasat mata dalam beberapa film essay – nya. Betul, Morgan Spurlock juga muncul secara atraktif dalam SuperSize Me. Tapi, kehadiran mereka menjadi satu gerbong yang dinamis dan harmonis dengan opini personal mereka yang tajam, sarkastis, satire, terelaborasi menjadi sebuah sajian menarik. Tema carut marut pita cukai sebetulnya tema yang unik dan menarik, yang bagi orang awam seperti saya memunculkan pertanyan menggelitik, “Hah, kenapa dengan pita cukai rokok?”. Sesuatu yang tidak menjadi tema mainstream. Sama halnya saat Morgan mempertanyakan manfaat dan menyajikan bahaya McDonalds, atau Moore yang menyajikan nasib karyawan yang dipecat dalam Roger & Me. Tema-tema itu menjadi bahan siap olah jika dikemas dalam analitik yang mendalam dan komprehensif. S.Jai perlu mengelaborasi lagi opini, diskusi, dan semua hal yang berada di kepalanya saat menginvestigasi isu yang diangkatnya. Karena, sebagaimana halnya essai, sinematik essai mengedepankan ketajaman opini. Karena itu, dalam banyak sinematik essai, pilihan penggunaan “the voice of God” sebagai metafore “Voice Over” menjadi salah satu pilihan bernas untuk menyampaikan kekuatan opini sang author.

Kekuatan sinematik essai yang lain adalah pilihan gambar. Saya teringat ambilan-ambilan gambar Thin Blue Line dan Gates of Heaven-nya Erill Morris. Penggemar dokumenter tidak bisa menolak saat disuguhi gambar-gambar artistik-semi eksperimental yang dipakai untuk memaparkan fakta, data yang dielaborasi dengan wawancara. Sebaliknya, para penggemar art, secara sadar melahap habis semua data dan realita yang muncul dalam kemasan artistik tersebut. S.Jai, dengan latar belakang sastra dan teaternya, pasti dengan sangat sadar memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih ambilan visual. Sayangnya, beberapa pilihan gambar yang muncul belum memaksimalkan perspektif artistik. Saya membayangkan jika adegan “mesin” linting rokok manual itu dimaksimalkan sebagai kekuatan artistik, pun keriuhrendahan pegawai pabrik rokok, ataupun pilihan visual bungkus rokok. Clara Law, dalam Letter to Ali menampilkan suasana kering kerontang gurun australia yang dibungkus birunya langit sebagai sebuah kekuatan artistik. Letter to Ali adalah mixing genre road-documentary-cinematic essay. Paduan yang tidak biasa dan menghasilkan karya yang luar biasa.

Tapi, ini bukan kiamat. Bagi saya, karya S.jai ini tetap merupakan salah satu terobosan. Tak banyak yang menjejakkan langkah di sini karena berada pada ranah batas yang absurd. Tapi, mereka yang mapan akan menjadi fenomenal. Siapa yang tidak mengenal karya Chris Marker atau Jean Luc Goddard sebagai sineas klasik yang konsisten di jalur sinematik essai. Bukan, yang diperlukan S.Jai bukan meniru mereka. Yang diperlukan adalah berkarya lagi. Lagi. Dan lagi. Hingga menemukan pola dan ciri sendiri. Saya selalu percaya satu hal, karya pertama adalah karya terbaik. Karya berikutnya adalah perbaikan dari karya terbaik itu. [Sidoarjo, 12 januari 2010]

 Staf pengajar Departemen Komunikasi FISIP Unair. Penyuka karya Chris Marker, Pecinta karya Erril Morris, dan selalu terhibur oleh karya Michael Moore. Dapat ditemui di ketutsatrya@yahoo.com.au

Referensi:

 Phillip Lopate, “In Search of the Centaur: The Essay-Film”, in BEYOND DOCUMENT: ESSAYS ON NONFICTION FILM, edited by Charles Warren, Wesleyan University Press, 1998.

[1]Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai esai film/sinematik, lihat: M. Alter, N (2007). Translating the Essay into Film and Installation. Journal of Visual Culture, 6 (44),hal. 44-57