Tag

, ,

Saat saya masih menikmati kesunyian perth, seorang mahasiswa mengirimkan email. Dia bertanya, apa benar departemen komunikasi memperkenankan mahasiswa-nya lulus tanpa harus mengerjakan skripsi? Saya kaget. Saya tidak pernah tahu. Dan saya memang tidak tahu, karena saat itu saya tidak aktif.Jadi, saya jawab saja, saya tidak tahu.

Saat itu, saya memang sedang menyelesaikan program master by research dengan sistem yang relatif baru di Curtin University. Program yang menuntut saya membuat dua “jenis” thesis: satu berupa karya tulis, dan bentuk kedua berupa film essay. Itulah makanya mereka menamakan program master yang saya ambil: creative arts. Program yang membunuh saya sejak tahun pertama. Program yang mendidik saya untuk kejam dan tanpa ampun.

Menerima email itu, saya sebetulnya seperti membuka buku lama saat saya masih menjadi mahasiswa. Inti pertanyaannya kurang lebih serupa: haruskah mahasiswa komunikasi menulis skripsi? Waktu itu sempat terlontar pernyataan, hard skill praktika dalam industri komunikasi tidak memerlukan skripsi.

Benarkah?

Kemudian, saat saya akhirnya “dideportasi” dari Perth, kembali seorang mahasiswa menanyakan hal yang sama. Dan belajar dari pengalaman saya, saya sempat menyatakan kepada mahasiswa tersebut bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi jika departemen siap.

SIapkah?

Wacana ini sempat dibahas internal. Malah, dalam program S2, sudah diujicobakan pada thesis milik mas Yuyung Abdi, yang mengkombinasikan thesis dengan karya. Tapi, bottom line-nya: Kombinasi.

dan kini, beberapa mahasiswa mendiskusikan hal yang sama. Saya sendiri sempat membuat status yang kurang lebih serupa tapi dalam perspektif yang berbeda.

Bagaimanakah?