Tag

, , ,

memilih keluar dari Bali sesungguhnya adalah pilihan sulit. Aku tahu, Ajik dan Ibu sebetulnya tidak setuju dengan pilihanku ini. Mereka kerap bilang, Blidek pun akan disuruh pulang saat lulus nanti dari ITS. Aku tahu, Ajik dan Ibu berkorban sangat banyak untuk kami. Blitu dengan kedokterannya, tak kecil biaya yang harus dikeluarkan. Blidek yang di Surabaya, tiap bulan Ajik selalu ke Bank, mengirimkan uang untuk Blidek.

 Aku tidak akan pernah lupa wajah letih Ajik begitu pulang dari Hotel. kami tidak akan pernah protes saat Ajik terlambat pulang, atau pulang malam. Karena uang lembur menjadi sangat berarti. Juga, pulang malam seringkali berarti tambahan bonus ice cream, croisant atau makanan mahal lainnya dari hotel. Pun. Ibu. Aku kerap kali merasa bersalah, saat pulang sekolah tak bisa menjemput ibu di sanglah. Hanya karena aku lebih memilih menyibukkan diri dengan anak-anak Angin, dengan KISS-1. dengan Media Karmany, atau hanya sekadar nonton.

Kini, saat aku menyatakan aku memilih kuliah di Surabaya, aku teringat kembali semua itu. Pilihan ini akan membuat Ajik dan Ibu harus lebih rajin lagi menabung. Aku tahu gaji PNS tidaklah besar. Itulah makanya aku semakin merasa bersalah. Tapi, egoku kini sedang menanjak. Aku harus di luar Bali. Komprominya adalah di Surabaya. Yang paling dekat, biayanya pun tidak mahal.

Ajik dan Ibu tidak pernah menyatakan menolak, walau sorot mata mereka menyatakan lain. Ibu pun hanya bertanya, “Di Bali tidak ada komunikasi?”. Ajik hanya berkata, “Apapun yang Gungtut mau dan yakin, Ajik dan Ibu akan dukung,”. Dan, aku semakin tertunduk dalam.

uang tidak pernah dipersoalkan oleh mereka. Ajik dan Ibu akan melakukan apa saja demi anak-anaknya. kami memang dididik hidup apa adanya. Itu juga yang membuat aku semakin bersalah. Aku membuat mereka harus bekerja lebih keras lagi. Iya, aku punya tabungan dari honor menulis, atau hadiah lomba karya tulis. Tapi itu tidak seberapa. Iya, aku juga dijanjikan Bli Artha untuk bisa menjadi koresponden Wiyata Mandala atau membantu Bali Post Surabaya. Tapi itu kan tidak pasti.

Meninggalkan Bali seperti meninggalkan diri sendiri. Tapi, ini adalah pilihan hati. Aku masih ingat, saat aku tidak pernah lagi rangking 10 besar di SMA (dan aku selalu juara umum waktu SMP), Ajik berpesan, “lakukan apa yang gungtut suka, jangan lakukan karena orang lain suka,”

Dan, aku sekarang melakukan itu. dengan segala rasa bersalah itu. Tapi, aku berjanji, nanti, akan akan kembali ke Bali, dan menemui Ajik dan Ibu. Membahagiakan mereka. Menunjukkan bahwa aku tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka.