Tag

, ,

Wacana soal skripsi menjadi tidak wajib adalah salah satu mimpi saya. Berikut repost tulisan lama saya. 

Saya bukan orang yang pintar menulis. Apalagi menggunakan bahasa-bahasa fantastis. Plus kutipan-kutipan eksotis. Tentu, istilah-istilah elitis. Yang barangkali hanya bisa dipahami Tuhan dan sang penulis. (Note: Tuhan pun belum tentu tahu lo yah :P).Saya juga bukan orang yang hobi membaca buku-buku berat (selain karena isinya berat, kadang-kadang buku-buku itu secara fisik juga berat). Mungkin karena saya penganut hedonis atheis kapitalis yang sosialis apatis. Jadi, kalau yang lain mengenal karl marx, saya mengenal richard marx. Yang lain khatam albert camus, saya kadang suka buka kamus. Yang lain penggemar derrida, saya penyanyi gubuk derita.

Maka, saat disuruh menulis skripsi, dimulailah mala petaka itu. Hidup saya berubah total. Kamar dan meja yang biasanya dipenuhi komik asterix, tintin, lucky luke, smurf, atau novel trio detektif, lupus, gola gong, agatha christie, putu wijaya, atau buku desain, tiba-tiba dipenuhi buku-buku yang tidak pernah saya lirik sebelumnya. Mala petaka.

Skripsi mulai menjadi persoalan paling besar dalam hidup saya saat itu (well, selain asmara dan dana tentunya :P, maklum anak kost yang membiayai SPP-nya dari hasil melacurkan diri di media). Teori komunikasi saya hanya mendapat C, bahkan statistik deskriptif saya mendapatkan D. Apa yang bisa saya andalkan dari nilai kancrut semacam itu? Otak saya juga lebih banyak diisi ide liputan atau rencana kelayapan. Maka, little John menjadi semacam BIG john bagi saya.

Belum lagi, saya sudah mulai mengenal dunia kapitalis dengan bekerja di pabrik (Yes, PABRIK, sodara-sodara. Senin – Sabtu, pakai seragam, sabtu setengah hari, pakai absensi! Yoehoe..), maka skripsi lebih menjadi ancaman, ketimbang tantangan.

Yang mengubah mimpi buruk saya hanyalah saat nge-pub di kafe Jendela (almarhum) dalam acara Oops (orang-orang Periklanan Surabaya). Jazz dan kegilaan beberapa creative designer membuat saya sadar hukum marketing dalam lembah hitam bernama skripsi ini: “Jangan pernah berpikir membuat skripsi hebat diantara banyak skripsi hebat lainnya, apalagi kalau kamu bukan orang hebat, otak cuman sejengkat, IQ cuman seperempat. Pikirkanlah skripsi dengan tema yang kamu suka, dan belum pernah dipikirkan atau dibuat orang lain sebelumnya”

Kalau kamu tidak bisa menjadi yang pertama, jadilah yang terbaik.

Jika kamu tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah yang pertama.

Jika kamu tidak bisa menjadi yang terbaik atau menjadi yang pertama, jadilah yang berbeda.

Jika kamu bisa menjadi berbeda, maka sudah jelas, kamu yang pertama. Tinggal merebut tempat menjadi yang terbaik.

Simpel. Tapi bikin sebel.

Kok ya baru terpikirkan saat menulis skripsi.

Maka, itulah. Saya mencari tema yang berbeda. Malah tema yang sangat praktikal. Saya memperbanyak referensi dari jurnal online. Saya memberanikan diri melacur ke penerbit luar negeri, melalui email, untuk meminta buku gratis dengan alasan keuangan yang terbatas (well, bukan alasan, fakta seh). Saya melakukan konsultasi jarak jauh dengan para penulis bukunya.

Voila.

Jadilah. Karya penuh darah dan air mata (well, ini lebay), tapi tidak menghilangkan jati diri saya. Karya tulis dengan tema yang praktikal, tapi diperkuat referensi teoritik, dan yang terpenting, tidak banyak (waktu itu) yang memilih tema itu. Saya tidak yakin skripsi saya bagus. Terlalu jumawa. (apalagi dari orang yang nilai teori-nya C dan statistik-nya D). Tapi yang saya yakin betul adalah, skripsi saya berbeda. Tidak hebat. Tapi BERBEDA.

Ini juga yang membuat saya melakukan keputusan paling gila seumur hidup saya: Menjadi dosen.

(apa hubungannya dengan wajib tidaknya menulis skripsi di komunikasi?)