Langit

Selama jaga, bengong satu setengah jam, saya jadi sering liat langit. Apalagi kalau pagi-pagi begini saat musim panas. Langit di sini rasanya lebih biru dan lebih luas dibanding langit di Sidoarjo.

Dulu, keluar rumah pagi-pagi ndak pernah liat langit. Jadwal mengajar pagi jam 7, membuat saya harus berangkat jam enam. Sidoarjo-Surabaya sebenarnya tak jauh. Kalau naik motor nonstop, cuman 30 menit. Cuman ya itu, dipotong komuter lewat 5 menit, lampu merah 10 menit sama macet 60 menit. (ohya kadang odong-odong kalau di desa dekat perumahan saya)

Keluar rumah, jangankan berdiri liat langit, lha yang ada tubuh dibungkus ala petugas penjinak bom. Helm, penutup hidung dan mulut, jaket, sarung tangan, sepatu. Kalau hujan, malah aksesorisnya tambah serem: gulungan jas hujan. Gimana sempet mau lihat langit?

Jadi, selama di sini, saya puas-puasin lihat langit. Membiru dengan awan-awan semarak. Ini kalau ada padang rumput bisa sambil tiduran dan pacaran berceloteh seperti pelem-pelem,

Kalau di Sidoarjo, mana bisa.
“Mas, indah ya…awannya banyak”
“Dik, iku bleduk-e teko pabrik sebelah”
“Oh..”

Di sini, saya berdiri satu setengah jam tiap pagi, menikmati langit membiru dan awan berarakan berlalu, dibayar pulak!! Penak tenan uripku.

Mungkin lain kali tak coba nanti di Sidoarjo, berdiri di pinggir jalan lingkar timur, menonton langit.

Kemungkinannya cuman dua.
Pertama, disapa orang, “Mas, sampeyan gak popo tha?”

Kedua, dapet pesan whatsapp dari kanca-kancaku katanya, “Gaaaaak, awakmu mlebu medsos, viral, jarene onok wong ngadheg pinggir jalan lingkar timur koyok wong goblok nontok langit…”

#baladatrafficwarden

View on Path

Salah Sekolah

Sekolah ini punya sodara. Kalau yang tempat saya kerja itu skolah (khusus) cewek, yang satunya sekolah (khusus) cowok. tempatnya agak jauhan. Tapi cukup membuat puyeng para ornagtua yang harus nganter anak-anak mereka ke dua sekolah itu. Seperti pagi ini.

Satu mobil merapat ke tempat saya jaga. Kaca dibuka, dan bapak-bapak berdasi dan harum mewangi bertanya.
“Morning mate, how are you doing?”
“Good sir, how are you?”
“I am good, thanks. Can I ask you a question?”
“yes, sure”
“This is my first time. Where should I drop my son off?”
“Excuse me. Your son?”
“Yes, this is our first day”

Saya lihat di sebelahnya, seorang anak laki-laki duduk dengan muka manyun. Sepertinya dia masih SD.

“But sir, do you realize this is P******, and not W***** ?

Si bapak bengong. Lalu dia berucap.
“Oh my God. What i have done. I dropped my daughter at the wrong school…”

Dia langsung pergi tancap gas.
Saya ingin ngakak tapi berusaha simpati karena membayangkan anak perempuannya bengong berdiri di sekolah yang isinya cowok semua. Semoga ada guru yang melihatnya.

Saya jadi inget dulu waktu mengantar Echa sekolah pagi di Sidoarjo. Pagi-pagi dengan semangat membonceng Echa duduk di depan dengan motor kesayangan, membelah pagi jalan lingkar timur. Berusaha membalap truk-truk yang sopirnya seperti diuber setan. Menikmati hembusan kabut tambak di kiri kanan lingkar timur. Lalu berhenti di daerah gedangan menunggu komuter pagi lewat. Echa tetiba bertanya,

“Ajik, sekolah Echa kok lewat sini?”

Saya baru nyadar. Bajigur. Saya harusnya mengantar Echa ke sekolahnya di perumahan citra Garden sana, kok saya malah bawa ke rute berangkat kerja ke Surabaya.

AKhirnya balik kucing ke arah Sidoarjo.
Tembelek kambing panuan bener…

#baladatrafficwarden
#kisahechadiva

View on Path

Gublugublugublu…begitu suara terdengar dari kejauhan. Saya tak tahu itu suara mobil apa motor. Para penjemput anak2 di sekolah ini kadang membawa mobil aneh bin ajaib. Tahun lalu ada yang membawa motor gandeng ala perang dunia 2 buat jemput anaknya. Lalu ada juga bapak yang pake mobil semacam pickup tapi tinggi dan besar, mirip truk tronton. Iku lek mlebu gang omahku di Kuta wes ambrol kabeh tembok kiri kanan. Ada juga yang bawa mobil+perahu boat di belakang. Entah ndak sempet ditaruh di rumah apa mau pamer doang, ndak tahu lagi. Sampe akhirnya saya minta dia parkir di luar areal sekolah. Bukan apa-apa, saya digaji buat ngatur mobil, bukan perahu.

Suara gublugublugublu itu masih terdengar. Masih di belakang antrian panjang. Saya belum lihat itu apa. Suaranya mirip suara oramg naik sepeda yang ban-nya dipasang balon. Gublugublugublu…

Lalu satu anak kelas tiga datang mendekat. Dia bertanya, “what is that sound?”
Saya menggeleng, “i dont know. Should be a car. Or maybe a big bike.”
“Harley?”
“Yeah maybe”

Dia tampaknya ingin tahu. Dia ikut berdiri di sebelah saya menunggu.

Suara gublugublu itu semakin keras, sampai muncul di tikungan. Mobil sedan merah tanpa atap.

Saya berkata, “yeah, that is a car. But i dont know what car is that”
Si anak kecil itu yakin menjawab, “its a mustang. 1969”

Saya bengong. Saya menoleh keheranan. Anak ini masih kecil. Baru kelas tiga SD, udah tahu mobil. Buset. Saya penasaran.

“How do you know?”

Si anak kecil menjawab, “i dont. I dont know about car”
“But how do you know that car is a mustang 1969?”
“I just read the car plate..”

Saya lihat plat nomer mobil itu. Oh iya, tulisannya Mustang1969.

Asyem kecut… tak pikir arek iki pinter tenanan

#baladatrafficwarden

View on Path

Nama

Berkali-kali saya melihat jam tangan, sambil melihat belokan di depan yang mengarah ke tempat saya berdiri. Saya menunggu satu mobil yang saya kenal. Dari jauh mobil itu terlihat. Mulai mendekat. Hati saya mulai berdebar kencang. Tak beraturan. Saya mulai tak tenang. Mobil itu masih antri di belakang mobil lain. Saya lihat ke kiri, anak-anak kelas 3 sudah datang. Saat mendebarkan itu hampir tiba.

Mobil itupun mendekat. Jantung saya berdebar kian kencang. Keringat dingin mulai turun (aslien wes gobyos seh, wong puanas). Saya kembali melirik deretan anak-anak kelas tiga, lalu ke mobil itu.

Ini kalau di sinetron zoom in sudah bolak-balik.

Mobil itupun mendekat dan berhenti di depan saya. Saya menguatkan hati. Inilah saatnya. Saya harus kuat. Saya membaca lagi name-tag di kaca mobil dengan seksama. Lalu..

“Anuskah….”

Kencang. Membahana.

Lalu terdengar suara:

“Yes, I am..”

Sungguh, saya sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tersenyum, apalagi tertawa. Padahal di dalam hati sudah luar biasa pergulatan ingin tertawa.

Nak, untung kamu tidak tinggal di Indonesia. Bayangkan kalau teman-teman kamu memanggil nama singkatmu. Bisa bergetar dunia.

Namanya anushka. Itu nama bagus. Artinya juga bagus. Kalau tidak salah bahasa hebrew. Tapi maafkan saya. Saya hampir tak sanggup menahan tawa.

Ini mirip dengan teman saya Ine Winarno yang memanggil saya di mall siang-siang…”Bang….saaaaat”

Dilan, sungguh rindumu tak seberat saya manggil nama ini

#baladatrafficwarden

View on Path

Your Fault

Kemarin itu memang luar biasa. Sekolah segede gambreng begini, dengan kebrutalan para orangtuanya menjemput anaknya mengakibatkan kemacetan di dalam areal sekolah hingga 10 menit, mobil tak bisa bergerak. Saya sampai harus mondar-mandir membuat contra-flow dan mengarahkan mobil biar mereka bisa keluar halaman sekolah. Jadi kalau lihat sosok segede beruang pake seragam biru dengan rompi glowing in the dark warna ijo berlarian, itu mungkin ulat ijo atau bisa jadi saya.

Lalu datang mbah-mbah.. Saat dia mulai parkir di antrian terdepan, saya merasa tahu mobil itu. Oh, itu mbah yang terkadang menjemput anaknya di tempat saya ini tahun lalu. Loh, kenapa ikutan antri di sini? Harusnya dia antri di gerbang yang lain. Saya datangi:

“Excuse me Maam. Are you picking up *****?”
“Yes, as usual”
“But Maam, you should pick her up at another gate. Not here. Here is only for year 3 and 6”
“But last year, I always picked her up here”
“Yes, I know that. But she is not in year 3 anymore now. She is in year 4, right?”
“But nobody tells me.It is long line everywhere. I will wait here”
“I am sorry, you can’t do that. You will block this line. It is unfair to other parents”
“No, I don’t want to..”

Lalu dia nutup kaca. Diamput. Jadi saya tinggalkan saja dia. Tentu, mobil mbah itu jadi penghalang, mobil di belakang dia harus mengambil haluan tengah. Jalur jadi kacau. Saya lalu mendatangi guru kelas 3 meminta dia ngomong ke si mbah.

Si guru mendatangi. Mereka terlihat adu argumentasi. Si guru kembali, dengan muka gusar, tapi puas dan bilang ke saya, “She is so difficult. But she will move her car”.

Saya lalu mendekati mobil si mbah, bermaksud membantu dia keluar antrian yang kacau balau karena ulahnya. Saat dekat, eh tiba-tiba dia buka kaca lagi, lalu teriak, “Why you did not tell me that I have to pick up at other gate? This is your fault!”. Lalu menutup jendela dan pergi.

Saya bengong. Mamah-mamah di belakang si mbah tadi yang melihat kejadian itu ngikik-ngikik. Dargombes.

Jiancuk…Kok saiki jadi salahku?

Dilan, tampar aku Dilan. Tampar aku dengan rindumu..

#baladatrafficwarden

View on Path

Holiday

Hari pertama bertugas lagi seperti suasana hari pertama setelah libur riyoyoan. Semua orang saling mengucapkan selamat hari raya dan bermaafan. Saya biasanay keliling dari lantai dua ke lantai satu untuk bersalaman. Paling enak pas ada makan-makannya.

Tapi ini beda. Semua saling mengucapkan selamat tahun baru dan basa-basi soal selamat bertemu kembali.

“Good morning, Satrya… Its good to see you back”
atau
“Morning mate, happy new year…it will be another 10 months to go…”
(asyem, baru mulai masuk udah menghitung hari kapan libur lagi)

Tapi, selain bersalam tahun baru, basa-basi mereka juga bertanya soal liburan kemana aja kemarin. Dan tentu saya harus bertanya dan menjawab hal yang sama..

“Where did you go for holiday Satrya?”
“Well, technically it was not holiday. I did my fieldwork and went back to Bali, my home”
“Owh thats great..”
“Where did you go for holiday?’
“This year we went to Norway…”

dan memang, karena ini sekolah swasta yang uang spp anak SMA-nya per term sama dengan uang SPP saya ambil Phd setahun, destinasi wisata mereka ke negara-negara yang kalau denger aja rasanya mahal dan jauh..

“I went to finland..”
(Cuk…adohe)
“We went for winter holiday to Switzerland”
(Biasa, aku biasa mangan coklat swiss)
“Florida..”
(Iki nutrisari tha?)
“Austria, and some other european countries”
(Hancik…palingo travel agent iki)
“Swimming at maldives..”
(Bawa boneka teddy bear ndak?”
“Ukraine…Its cool..”
(Buset, iku ndak wedhi perang, tha?”)

lalu..
“Aku mulih nang suroboyo mas…”

weh…haha lupa saya kalau mbak ini anak surabaya yang rumahnya di Dukuh Kupang. Dia baru lulus dua tahun lalu, keluarganya tinggal di sini dan sekarang juga kuliah di universitas tetangga. Dia sekarang nganterin keponakannya yang murid SD di sini.

Akhirnya, ada tempat wisata yang saya tahu.

#baladatrafficwarden

View on Path

Dua hari ini, saya kalau lagi nganter pizza, nyetirnya adem banget. Extra hati-hati. Jadi setiap mau nganter pizza ke kastamer, saling ngingetin: double demerits loh.

Iya, saya bukan pengendara yang baik, saya tahu itu. Tapi di negeri ini saya belajar nyetir dengan tertib. Tapi e tapi, waktu di Indonesia, saya ndak pernah loh ikutan ngebut di belakang ambulans yang lagi nguing2, atau ikutan pasang lampu hazard di belakang deretan mobil yang pasang hazard ngikutin mobil polisi. (Hayo..yang sering kayak gitu…ngaku..)

Minggu ini long weekend, dan polisi nerapin double demerits point. Artinya setiap pelanggaran, poin pelanggarannya jadi double. Yang lebih gawat lagi, denda duitnya juga double!!!

Saya pernah merasakan sakitnya kena denda. Walau bukan saat double demerit, tapi tetap sakitnya berlipat. Ini gara-gara saya belok kok ya pas lampu berubah merah. Saya waktu itu yakin lampu masih kuning, karena pas belok. Tapi pas mau appeal dan lihat bukti foto berwarna di web-nya polisi, tampak jelas lampunya merah. Ya sudah…

Yang bikin sakit hati berlipat ganda, untuk urusan itu saya terkena tiga pelanggaran sekaligus: 1. Tidak berhenti di belakang garis putih tanda berhenti. 2. tidak berhenti saat lampu merah 3. Membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.

Buset dah. Jadi tidak HANYA melanggar lampu merah. Dan tiap pasal pelanggaran, saya kena denda 100 dollar. Jadi total 300 dollar saya harus bayar !! Dargombes tenan.

Mirip jomblo yanh ditolak idolnya karena tiga alasan: 1. Kamu baik sekali 2. Kamu terlalu baik buat aku 3. Kita berteman sajaz

Sakit ndak sih, Mblo?

#jombloisme
#baladapizzadriver

View on Path