Si Diva ini kadang ngeyelnya ndak kira-kira. Tapi bagus juga sih. Dia sebisa mungkin belajar mandiri. Nyonto kakaknya. Biar bisa dipanggil big girl. Diva paling benci kalau saya panggil big baby atau my baby girl.

Tadi, abis poo, ganti baju pake long sleeves dan legging, dia berusaha sendiri. Saya tahu sebenarnya dia masih susah make sendiri. Motorik-nya memang masih kalai dibanding dengan echa saat seusia dia.

“Diva, you should do it while sitting..”

Eh dia nyemprot, “i know what i am doing Ajik..”

Oh okay. Saya diemin sambil pura-pura main hape. Pengin ngerekam tapi ndak sempet.
Kutak-katik…eh dia kehilangan keseimbangan dan jatuh. Bruk…

Saya diemin. Dia menoleh ke saya. Kakinya dua-duanya udah kesrimpet ndak karuan pada leggingnya.

“You need help, Diva?”
“Well, i can do it by myself”
“Okay then…take your time”

Kutak, katik, kutak, katik. Sambil berdiri. Lalu,
Bruk…. jatuh lagi.

“Ajik..”
“Yes..”
“Everyone makes a mistake..”
“Yeah, of course…”
“Can you help me now, Ajik?”
“Okay darling..”

Saya bantu sambil ngikik.

“Why do you say that you know what are you doing?”
“Daddy Pig always says like that…”

Saya ngakak. Silly daddy pig…

#ceritaechadiva

View on Path

Misuh
Saya dulu itu sopan, bahasanya halus, baik budi, tak sombong suka menolong, manis, berbudi luhur. Sungguh. Kalau tak percaya, coba tanya saya. Pasti saya benarkan.

Saya hobi misuh sejak di tinggal di Surabaya. tepatnya sejak berkenalan dengan kawan-kawan saya yang asli Surabaya, saya jadi hobi misuh. Setiap saat misuh. Macam, “Jancuk…wetengku sakit kepengin ngising..cuk”. Barangkali, itu adalah cara paling gampang buat saya untuk masuk ke dalam budaya Surabaya. Saya menyukainya. Sepenuh hati.

Dan misuh ini keluar spontan tanpa memandang batas usia dan sosial. Dari kawan yang religius penuh doa hingga kawan yang tiada hari tanpa ganja. Dari kawan yang sebaiknya tanpa muka hingga kawan yang cantik gantengnya hingga ujung dunia. Walau awalnya, saya sempat komentar, “Astaga, ayu-ayu kok misuhan..”. Komentar itu sekarang berubah, “Cuk, koen ayu kok gak misuhan..Bablas ayu-mu”.

Sebaliknya, saya pun mengajari teman-teman saya hal-hal menyenangkan dari Bali. Karena saya tak mungkin meminta mereka makan babi guling padahal itu makanan paling enak dunia akhirat, saya akhirnya mengajarkan mereka bahasa Bali. Tentu, seperti halnya jancukan, saya juga mengajarkan nas-kleng, celak barak, atau minimal meyakinkan mereka bahwa bojog itu adalah ganteng. Sehingga, puas rasanya sambil ngikik melihat teman-teman saya dengan bangga berkata, “Aku guanteng koyok bojog, gitu ya gak?”. Tentu setelah mereka tahu bojog itu monyet, mereka misuhi saya.

Misuh sebagai ekspresi spontan. Tak hendak memaki orang lain. Tapi ya gimana, nama saya juga ternyata ada unsur maki-annya. Saya ingat pernah suatu saat, kawan saya ketemu saya di mall gitu, dengan suara lantang dia berteriak memanggil saya, “Baaaaaaaang Sat”. Mungkin seantero mall enam lantai itu sontak berhenti sejenak. Menunggu apakah ada shooting sinetron.

Saya percaya, bom itu tak akan merubah kota saya ini. Aku gak wedhi, aku ancen rodok nderedeg. Konsepsi “tidak takut” ini bukan soal tidak takut berhadapan dengan teroris. Kalau di depan saya ada teroris pegang bom gitu, mungkin saya sudah pingsan duluan. Tapi ini soal sikap menyatakan perlawanan kepada mereka yang mencoba menghancurkan ketenangan dan kedamaian kota ini.

Karena saya mencintai kota ini. Yang membuat saya belajar bahwa kita bisa ekspresif tanpa harus eksplosif. Apa adanya tanpa pura-pura.

Surabaya, jangan menyerah. Tetaplah seperti apa adanya. Seperti yang selama ini aku cinta.

#surabayatetapada #surabayawani #terorisjancok #SurabayaGakWedhi

View on Path

“Dont forget to take a shower after swimming, Kakak”
“I will, Ajik. I always do it”
“But last week, I still smelt chlorofyll after you took a shower”
“Really? Not today, I promise you. And Ajik..”
“Yes?”
“It’s chlorine. Not Chlorofyll”
“Ah okay. I mean that. And not much difference”
“Its totally different, Ajik..”

Itulah kenapa nilai kimia saya 4 waktu SMA. Chlorofyll dan Chlorine aja ndak tahu bedanya.

#ceritaechadiva

View on Path

“Maaaas, aku abis foto karo Tamaraa..”

Teman saya mbengok dari jarak seratusan meter dari parkir mobil. Saya yang sedang pasang muka galak ke satu anak SMA yang nekad mau parkir mobilnya di areal guru sontak menoleh. Hilang sudah kegalakan saya. Batin saya, “tamara? Siapa?”

Saya mendekati teman saya sesama tukang parkir itu. Dia dengan muka sumringah mengabarkan bahwa dia baru saja foto dengan Tamara bleszynski (iya, susah. Saya perlu gugel dulu untuk tahu cara nulisnya).

Kenal Tamara? Sepertinya seangkatan dengan febby febiola, sally marcelina, inneke koesherawati. (Lhhhuk..iki aku kok hafal artis-artis panas iki?).

“Ohya? Kok bisa? Anaknya sekolah di sini”
“Ndak. Dia temenan sama mbak cindy”
“Siapa?”
“Loh mbak cindy, mama-nya k****a. Kan tahun lalu dia jemput anaknya di tempatmu”
“Oalah itu. Aku tahu. Dia kenal Tamara?”
“Loh piye sih sampeyan. Mbak Cindy iku kan artis. Cindy claudia… penyanyi, model. Ngetop loh”
“Lho iya tha? Aku ndak ngerti..”
“Haish..sampeyan iku mass..”

Lha iya, kalau urusan artis gini saya memang kurang apdet. Lha dulu, waktu acara jazz traffic nginep di hotel yang sama dengan artis pengisi acara. Waktu sarapan, di seberang meja ada orang yang mukanya mirip Tulus, badannya besar kayak Tulus, dan orang-orang sekelilingnya bawa kertas dan map yang ada tulisan Tulus, tetep aja saya tanya, “Mas, anda Tulus ya?”

Eh dia njawab,”bukan…”

Istri saya ngomel, lah kok pake nanya. Mbok ya langsung minta foto bareng. Lah saya takut salah orang. Kan ndak enak. Bayangno lek orang2 ngira saya “brad pitt…kamu kok jaga parkir sih?”

Kan saya ndak enak sama brad pitt beneran.

Saya percaya aja. Walau istri saya udah yakin dunia akhirat kalau itu Tulus sang penyanyi. Saya mah percayaan sama orang. Lalu di panggung lihat orang itu. Sial itu Tulus beneran. Sampeyan iku Tulus tapi njawabe ndak tulus, mas…

Kembali soal tamara, di lokasi saya sekarang ada beberapa ibu orang Indonesia. Mungkin perlu saya tanya satu-satu. “Mbak, sampeyan iku artis apa bukan?”

#baladatrafficwarden

View on Path