Si Diva ini kadang ngeyelnya ndak kira-kira. Tapi bagus juga sih. Dia sebisa mungkin belajar mandiri. Nyonto kakaknya. Biar bisa dipanggil big girl. Diva paling benci kalau saya panggil big baby atau my baby girl. Tadi, abis poo, ganti baju pake long sleeves dan legging, dia berusaha sendiri. Saya tahu sebenarnya dia masih susah make sendiri. Motorik-nya memang masih kalai dibanding dengan echa saat seusia dia. “Diva, you should do it while sitting..” Eh dia nyemprot, “i know what i am doing Ajik..” Oh okay. Saya diemin sambil pura-pura main hape. Pengin ngerekam tapi ndak sempet. Kutak-katik…eh dia kehilangan keseimbangan … Lanjutkan membaca

Misuh Saya dulu itu sopan, bahasanya halus, baik budi, tak sombong suka menolong, manis, berbudi luhur. Sungguh. Kalau tak percaya, coba tanya saya. Pasti saya benarkan. Saya hobi misuh sejak di tinggal di Surabaya. tepatnya sejak berkenalan dengan kawan-kawan saya yang asli Surabaya, saya jadi hobi misuh. Setiap saat misuh. Macam, “Jancuk…wetengku sakit kepengin ngising..cuk”. Barangkali, itu adalah cara paling gampang buat saya untuk masuk ke dalam budaya Surabaya. Saya menyukainya. Sepenuh hati. Dan misuh ini keluar spontan tanpa memandang batas usia dan sosial. Dari kawan yang religius penuh doa hingga kawan yang tiada hari tanpa ganja. Dari kawan yang … Lanjutkan membaca

“Dont forget to take a shower after swimming, Kakak” “I will, Ajik. I always do it” “But last week, I still smelt chlorofyll after you took a shower” “Really? Not today, I promise you. And Ajik..” “Yes?” “It’s chlorine. Not Chlorofyll” “Ah okay. I mean that. And not much difference” “Its totally different, Ajik..” Itulah kenapa nilai kimia saya 4 waktu SMA. Chlorofyll dan Chlorine aja ndak tahu bedanya. #ceritaechadiva View on Path Lanjutkan membaca

“Maaaas, aku abis foto karo Tamaraa..” Teman saya mbengok dari jarak seratusan meter dari parkir mobil. Saya yang sedang pasang muka galak ke satu anak SMA yang nekad mau parkir mobilnya di areal guru sontak menoleh. Hilang sudah kegalakan saya. Batin saya, “tamara? Siapa?” Saya mendekati teman saya sesama tukang parkir itu. Dia dengan muka sumringah mengabarkan bahwa dia baru saja foto dengan Tamara bleszynski (iya, susah. Saya perlu gugel dulu untuk tahu cara nulisnya). Kenal Tamara? Sepertinya seangkatan dengan febby febiola, sally marcelina, inneke koesherawati. (Lhhhuk..iki aku kok hafal artis-artis panas iki?). “Ohya? Kok bisa? Anaknya sekolah di sini” … Lanjutkan membaca