Dapat mas gojek yang bukan lagi mas-mas, tapi mbah-mbah. Sudah sepuh dan kurus pula. Jadi banyak ndak tega-nya.

Dibonceng menembus kemacetan Kuta plus menantang kegilaan pemotor yang lain. Si mbah malah taat aturan. Saat macet, manut di belakang mobil. Ndak pernah sekalipun nyalip dari kiri.

Walah, padahal saya buru-buru. Menunggu anteng macetnya hilang seperti menunggu jomblo menepati janjinya kawin tahun depan.

“Pak, ndak berani nyalip pak?”

Dia lalu terpaksa ambil kiri. Mungkin karena sepuh, si motor agak oleng tak stabil.

Baiklah. Ini mengerikan. Akhirnya saya ambil inisiatif. Saya perlu cepat.

“Pak, berhenti sini pak.”
“Oh kenapa mas?”
“Saya perlu cepat pak..”
“Saya berusaha ngebut pak..”
“Bukan gitu pak, gimana kalau saya yang nyetir pak?”
“Wah, mas kan yang sewa saya.”
“Sudahlah pak, ndak apa-apa. Saya sudah harus di tempat lain 10 menit lagi”

Dia mengalah. Terpaksa. Apalagi mulai hujan gerimis. Akhirnya saya yang nyetir. Meliuk-liuk di antara mobil yang seperti biasa, berhenti berjamaah di jalan, alias macet.

Kadang ngebut. Iya, saya tahu saya melanggar aturan lalu lintas. Saya juga tidak bangga. Tapi mau apa lagi. Lama kelamaan, saya merasa pelukan si bapak tambah kencang di pinggang. Apalagi jika saya ambil jalur tengah diantara dua mobil. Si bapak kian mesra peluk saya. Wah, jangan sampai si bapak merasa nyaman.

Jadi kalau lihat motor dinaikin gajah pake helm gojek membonceng seseorang pake jaket gojek, besar kemungkinan itu saya.

Akhirnya sampaikan saya di rumah. Si bapak gemeteran turun dari boncengan. Tagihan 12 rebu saya bayar 30 rebu. Bapak yang sudah sepuh masih mau kerja jadi gojek. Itu luar biasa buat saya. Si bapak dengan wajah kusut dibawa ngebut jadi sumringah.

Saya bergegas ke rumah. Tapi si bapak tiba-tiba memanggil, “Mas…”

“Ndak apa-apa, pak. Kembaliannya buat bapak..”
“Bukan mas, itu helm saya…”

Sial. Saya lupa balikin helm-nya.

#gojekstory
#jadigojek

View on Path

Hot

“It’s hot…” jawab saya saat ditanya seorang mbak guru kemarin. Kemarin itu panasnya luar biasa memang.

Si mbak guru terdiam. Lalu tersenyum lebar. Saya ikut tersenyum. Lalu tersadar..

“I mean the weather. Hot..”

Si mbak guru menjawab. Masih dengan senyum.

“Oh, yes. I see. The weather. Its warm Satrya. Its warm..”

Sampai sekarang saya ndak paham kenapa mereka menyebut warm. Bagi saya ya kalau ndak panas ya dingin. Ndak ada hangat. Kalo hangat, ya teh anget ada. Kalau panas ya hot potatoes. Panas kentang-kentang.

Maap ya mbak. Hot iku cuacane. Dhudhuk awakmu

#baladatrafficwarden

View on Path

Menyanyi

Kemarin malam, saat makan malam, Echa terlihat sedikit kecewa. Saya bisa menebak sebenarnya. Minggu ini adalah minggu pengumuman hasil test program khusus bagi kelasnya. Tapi dari awal sebetulnya dia tidak berharap banyak, karena kami selalu mengajarkan dia bahwa setiap orang ounya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada orang yang menguasai semua hal. Tapi, bagaimanapun, rasa kecewa itu tetap ada., Dan itu wajar. Apalagi Echa selalu “berkompetisi” dengan besties-nya. Mereka bersahabat bertiga

“Ajik, did you receive a big envelope in our mailbox?”
“Nope. I didn’t see anything in our mailbox. Why?”
“Oh, it’s all right. I probably don’t get any chance for PEAC program.”
“Really? probably you need to wait until a couple of days.”
“I don’t think so, Helen received big envelope this morning. But, I am okay. helen is the smartest among three of us.”
“You are smart, Echa. Don’t worry. For Ajik and Ibu, you are smart.”
“Not really. I know my limit. I am not good at academics like Helen.”
“Don’t say that. Everyone has their own capabilities.”
“Well, I hate maths. And I know where it comes from. From you Ajik. you hate maths as well.”
“Yeah true. But you are good at dancing.”
“I know, It comes from Ibu. Definitely does not come from you.”
“Well, I like movies. You too.”
“Yeah true. But, one thing is so weird.”
“Whats that?”
“I love singing. And you must admit it, I am good at it. I will have my solo performance at the end of this term.”
“Yeah, I know. Why do you think that is weird?”
“Because both of you can’t sing. Especially you, Ajik. you are horrible…”
“Heh……”

tampaknya Echa sudah melupakan sedikit kekecewaannya tidak diterima program khusus itu dengan cara ngata-ngatain bapaknya.

#ceritaechadiva

View on Path

Flower Day

Hari ini flower day. Bukan, ini bukan hari bunga. Ini hari kelulusan anak SMA tempat saya kerja jadi tukang parkir. Kalau di Endonesah, anak-anak SMA sebagian merayakan lulusan dengan coret-coret baju, konvoi keliling kota, ndak pake helm, dan akhirnya berakhir dengan kepala benjut dipentung pak polisi, di sini semacam jadi pensi dan bagi-bagi bunga.

Cewek- cewek SMA itu dandan habis-habisan. Sampe ndak bisa bedain mana anaknya mana emaknya.

Tugas saya salah satunya ngusirin mereka yang parkir di areal terlarang. Seperti tadi, datang satu mobil dua pintu. Merk-nya jaguar. Harganya kayaknya setara dua kali gaji saya sebagai dosen seumur hidup. Biasanya kalau anak SMA pake plat P. Tapi mobil ini ndak. Akhirnya waktu dia parkir, saya datengin.

“Good morning Maam..”
Dia memandang saya. Diam sejenak.
“I am sorry, you are not allowed to park here, Maam”

Dia masih diam dan memandang saya. Lalu,
“Do i look old?”
“Sorry?”
“Do i look old? I am not my mother..”
Saya diam. Lah, awakmu ketok tuek jeh…
Saya membayangkan pertanyaan ini menjebak, ala sinetron.
Kalau saya jawab, “no, you look young. Dont worry”.
Nanti dia balas, “Lie!! you are a liar… you are lying to me…”

Kalau saya jawab,”well, you look old..”
Nanti dia balas, “how dare you say that to me..”

Terus aku yo opo?

Akhirnya saya jawab diplomatis.

“My apologise, i did not see your P plate, so..”
“I am a year 12 student. I am not my mother”

Lalu dia nutup jendela terus ngegas mobilnya pergi.

Weleh. Isuk-isuk jeh

Habis ini mungkin akan ada anak SMA nangis gerung-gerung di pojokan kamar mandi sambil kukur-kukur tegel.

#baladatrafficwarden

View on Path

Belajar Bahasa

Echa menonton film Indonesia pertama kali usia tiga tahun. Saya lupa yang mana, karena sejak saat itu, setiap ada film anak-anak Indonesia yang baru dirilis, Echa pasti kami ajak nonton di bioskop.

Kini saat kami di Perth, dia juga tetap menonton film anak-anak Indonesia. Kali ini menonton film anak-anak yang menjadi materi riset saya. Walau tak semudah dulu. Bukan apa-apa, kendala bahasa kini muncul. Sehingga dia lebih memilih yang ada subtitle inggris. Walau tetap saja, dia menikmati film yanh tak ada terjemahan inggrisnya. Saya yang harus membantu menjelaskan. Tak semua tentunya. Itulah indahnya bahasa visual.

Proses riset ini ternyata tak hanya buat saya, tapi juga buat Echa. Sebagai bagian mengingat bahasa, dan juga, identitas sebagai Indonesia. Cuman ya kadang tak semua lancar, terutama saat kapan hari untuk menuntaskan chapter tiga dan empat, film anak2 lawas harus dikupas, seperti Djenderal Kantjil produksi tahun 1958. Hitam putih dan warna burek semua. Pemainnya ahmad albar waktu kecil. Ndak usah dikasih tahu namanya, waktu lihat rambutnya, udah tahu kalau itu ahmad albar!!

Selesai menonton film-film itu…

“Ajik…”
“Yes?”
“This is all films for your research?”
“Yes…”
“Do you know all of this already?”
“What do you mean? Well, i know the actor. He then became the most popular rock star. His name is Ahmad Albar…”
“Wow, how old is he? Why do you know him?”
“Well, those old times..everyone knew him..”

Echa terdiam. Seperti berpikir. Lalu..
“Ajik…”
“Yes?”
“I just realise that you are so old…”

#ceritaechadiva

View on Path